Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Investing
Instagram

Hati-Hati dalam membeli Saham IPO !!!

Fenomena yang terjadi di Bursa Saham sering kali menarik perhatian banyak investor. Salah satunya adalah kenaikan harga saham yang fantastis dalam waktu singkat membuat semua orang ingin mendapatkan hasil demikian. Apakah semudah itu berinvestasi saham ? Tentu jawabannya, TIDAK!!! Bisakah kita mendapatkan untung ketika membeli saham-saham yang baru muncul di bursa alias IPO? Bisa saja, tetapi tetap saja dibarengi resiko yg ada. Sebelumnya kita harus tahu dulu apa yang dimaksud dengan saham IPO. Saham IPO sesuai dengan kepanjangannya (Initial Public Offering) adalah sebuah perusahaan menjual saham atau kepemilikan di pasar perdana (primer) dimana selanjutnya saham-saham tersebut dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Dengan definisi IPO di atas, kita tahu bahwa saham-saham yang diperjualbelikan tersebut mayoritas masih dipegang oleh pengendali perusahaan. Dengan kendali seperti itu, harga-harga saham menjadi sangat mudah "digoreng" menjadi naik atau sebaliknya. Saham-saha

Mengapa Saham Bagus dan Terkenal malah harganya turun?

Bapak Value Investing Dunia,  Benjamin Graham pernah mengatakan  : "In the short run, the market is like a voting machine--tallying up which firms are popular and unpopular. But in the long run, the market is like a weighing machine--assessing the substance of a company."         Bursa Saham Tahun 1918 di Austria Terkadang kita bingung mengapa saham2 hebat, kok dalam jangka pendek bisa menjadi jelek? Ya wajar saja, karena dalam jangka pendek, pasar saham adalah Tempat Voting. Ketika banyak yang membeli di harga tinggi, maka harga saham akan naik. Ketika yang terjadi sebaliknya, maka harga saham akan turun. Terkadang ada saham2 yg menjadi favorit investor dalam jangka pendek dan sebaliknya. Dalam jangka panjang, fundamental perusahaanlah yang akan memberikan jawaban kemana arah saham nya di masa yang akan datang. Kesabaran dan Analisa yang tepat lah yang akan memberikan kita hasil yang maksimal dalam pasar modal.

Mengapa Saham Sektor Konstruksi mulai Rebound di Tahun 2020?

Kinerja beberapa saham di Sektor Konstruksi seperti Waskita Karya (WSKT), Wijaya Karya (WIKA), Pembangunan Perumahan (PTPP), Waskita Beton Precast (WSBP) di Tahun 2020 itu tergolong sangat moncer, apalagi jika investor yang baru mulai berinvestasi di awal terjadinya pandemi sekitar bulan Maret 2020. Padahal kinerja keuangan sektor konstruksi belum membaik di tahun 2020 ini. Dari tahun 2018, harga saham-saham konstruksi mulai menurun sangat drastis.  Mari kita lihat performa saham konstruksi sepanjang 2020 di bawah ini : WSKT WIKA PTPP WTON WSBP Tentunya gain tersebut bis lebih besar lagi jika teman-teman lebih byk membeli di harga bawah ketika bulan April 2020. Kira-kira apa yang menjadi katalis positif, bagi emiten konstruksi sehingga harga saham nya naik drastis di tahun 2020 1. Sovereign Wealth Fund (SWF) Dibentuknya Sovereign Wealth Fund (SWF) membuat pemerintah lebih mudah untuk mendapatkan dana demi pembangunan infrastruktur sehingga tidak terlalu tergantung pada APBN . Besarn

Sampai Kapan Harga Saham Akan Turun? Kapan titik terendah nya?

Jika kita bertanya : "Sampai Kapan Harga Saham Akan Turun? Kapan titik terendah nya?" maka kita tidak akan mendapatkan jawaban yang pasti. Akan banyak ahli yang memprediksi bahwa dalam setahun ke depan akan turun terus dan ahli yg satu lagi akan memberikan prediksi sebaliknya. Yang mana yang harus kita ikuti? Nobody knows. Tidak ada orang yang tahu dimana titik terendah sebuah saham Yang harus kita ikuti dan cermati adalah saham yang sudah dan akan kita beli. Lupakan IHSG, Dow Jones dan lainnya, fokus lah pada kinerja emiten yang sudah kita beli dan yang menawarkan peluang bagus untuk dibeli. Bagaimana jika harganya turun terus? Tentunya ini adalah berita baik buat kita yang paham akan kondisi dan fundamental emiten yang kita beli. Dengan memiliki money management yang baik, kita tidak akan terlalu merisaukan ke arah mana pasar akan bergerak. Harga sekarang contonya Rp1000 terlihat sudah murah dan mencapai titik terendahnya selama 5 tahun terakhir, namun bukan berarti tida

Produk Domestik Bruto (PDB) vs Kapitalisasi Pasar Bursa Saham Indonesia menggunakan Buffett Indicator

Dilansir dari situs gurufocus.com , jika dihitung dari sejarah Gross Domestic Product Indonesia dari tahun 1990 sampai sekarang 2020 dibandingkan dengan kapitalisasi bursa Indonesia, maka harga saham2 di Indonesia sudah tergolong murah alias Undervalued . GDP Indonesia di Triwulan II tahun 2020 adalah Rp3.687 Triliun, sedangkan total kapitalisasi pasar Indonesia ditutup pada hari perdagangan Untuk Bursa  Berbeda dengan Amerika, yang mana harga sahamnya sudah tergolong "mahal". Untuk Bursa Saham Amerika Serikat (New York Stock Exchange) Mengapa kita penting membandingkan ini? Harga sebuah saham adalah berdasarkan kinerja bisnis nya. Anggap sebuah negara merupakan sebuah perusahaan. Kinerja ekonomi suatu negara tercermin juga salah satunya dari nilai semua perusahaan publik di negara tersebut. Jika GDP (Gross Domestic Product) atau PDB (Produk Domestik Bruto) sebuah negara jauh lebih besar dari nilai kapitalisasi pasar modal nya, maka peluang investasi untuk meraih